BAB
I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Pendidikan pada dasarnya merupakan
suatu proses pengembangan potensi individu. Melalui pendidikan, potensi yang
dimiliki oleh individu akan diubah menjadi kompetensi. Kompetensi mencerminkan
kemampuan dan kecakapan individu dalam melakukan suatu tugas atau pekerjaan.
Tugas pendidik atau guru dalam hal ini adalah memfasilitasi anak didik sebagai
individu untuk dapat mengembangkan potensi yng dimkili menjadi kompetensi
sesuai dengan cita-citanya. Program pendidikan dan pembelajaran seperti yang
berlangsung saat ini oleh karenanya harus lebih diarahkan atau lebih
berorientasi kepada invidu peserta didik.
Kenyataan menunjukkan bahwa program pendidikan yang
berlangsung saat ini lebih banyak dilaksanakan dengan cara membuat generalisasi
terhadap potensi dan kemampuan siswa. Hal ini disebabkan karena kurangnya
pemahman pendidik tentang karakteristik individu.
Jerold E. Kemp dan kawan-kawan mengemukakan (1996) beberapa
karakteristik individu siswa yang perlu difahami antara lain :
1. Age and maturity level
2. Motivation and attitude toward
subject
3. Expectation and vocational level
4. Special Talent
5. Mechanical Dexterity
6. Abilityto work under various enviro
condition.
Salah satu karakteristik penting dari individu yang perlu difahami
oleh guru sebagai pendidik adalah bakat dan kecerdasan individu. Guru yang
tidak memahami kecerdasan anak didik akan memiliki kesulitan dalam memfasilitasi
proses pengembangan potensi individu menjadi yang dicita-citakan. Generalisasi
terhadap kemampuan dan potensi individu memberikan dampak negatif yaitu siswa
tidak memiliki kesempatan untuk mengebangkan secara optimal pternsi yang aa
pada dirinya. Akibat penanganan salah seperti yang dilakukan oleh sistem
persekolahan saat ini kita telah kehilangan bakat-bakat cemerlang.
Individu-individu yang cerdas tidak dapat mengembangkan potensi diri mereka
secara optimal.
Teori Kecerdasan Ganda (Multiple Inteligence) yang
dikemukakan oleh Howard Gardner – seorang professor psikologi dari Harvard
University – akan dijadikan acuan untuk lebih memahami bakat dan kecerdasan
individu. Tulisan ini bertujuan untuk membahas dan lebih memahami tentang upaya
yang perlu dilakukan oleh guru dan pendidik dalam membantu memfasilitasi
pengembangan potensi individu peseta didik.
B. TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Untuk memenuhi tugas mata kuliah
Teori pembelajaran Fisika tentang “ teori kecerdasan ganda”
2. Untuk menambah pengetahuan penyusun
serta mahasiswa lain khususnya mahasiswa Universitas Muhammadiyah Prof.DR.
HAMKA
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Kecerdasan
menurut Thurstone
L. L Thurstone (1887-1980), seorang ahli
psikometrika, merumuskan konsep intelegensi terdiri atas 7 aspek kemampuan,
yakni: angka-angka, kelancaran kata, arti verbal, asosiasi ingatan,
alasan-alasan logis-rasional, pemahaman ruang, dan kecepatan persepsi.
No.
|
Aspek-aspek
inteligensi Thurstone
|
1.
|
Angka-angka (number)
|
2.
|
Kelancaran kata ( word fluency)
|
3.
|
Arti bahasa ( verbal
meaning)
|
4.
|
Asosiasi ingatan (associative memory)
|
5.
|
Alasan-alasan
(reasoning)
|
6.
|
Pemahaman ruang (space)
|
7.
|
Kecepatan persepsi
(perceptual speed)
|
Alat
tes ini dikenal dengan sebutan The Thurstone Primary Mental Abilities Test. Tes
ini cocok untuk mengukur kemampuan individu yang cenderung bersifat kompleks,
sehingga dapat dipergunakan untuk meramalkan prestasi akademis siswa di masa depan.
B.
Tes
kecerdasan ganda (multiple intellegences) dari Howard Gardner
Selain Thurstone, ternyata Howard Gardner, seorang
ahli di bidang tes psikologis, secara tegas menolak adanya anggapan bahwa kecerdasan
itu terdiri atas 2 aspek saja (verbal dan performansi). Ia sependapat dengan
Thurstone, bahwa kecerdasan itu terdiri atas berbagai aspek, jadi lebih dari
dua aspek. Karena itu disebut inteligensi ganda (multiple intelligences).
Menurut Gardner (1993) ada 8 jenis kecerdasan,
diantaranya:
No.
|
Jenis – jenis
kecerdasan
|
1.
|
Kecerdasan bahasa
|
2.
|
Kecerdasan logika –
matematika
|
3.
|
Kecerdasan spasial
|
4.
|
Kecerdasan music
|
5.
|
Kecerdasan kinestesi
|
6.
|
Kecerdasan
inter-personal
|
7.
|
Kecerdasan intra-personal
|
8
|
Kecerdasan natural
|
1.
Kecerdasan
bahasa (linguistic intelligence)
Kemampuan
individu untuk mengekspresikan otak sebelah kanan, dalam bentuk ekspresi bahsa,
yang terlihat dalam bentuk tulisan, seperti penyair, pengarang. Misalnya:
Shakespeare (Inggris), Rabidranath Tagore (India), Chairil Anwar, Sutan Takdir
Alisyahbana, Muh.Yamin (Indonesia). Para ahli fisiologis, mengakui bahwa
wilayah area broca dianggap sebagai organ yang berperan untuk mengolah,
menghasilkan kalimat tata bahasa. Kerusakan atau cedera pada organ ini,
menyebabkan individu tidak mampu atau akan mengalami kesulitan untuk memahami
atau mengerti kata-kata atau kalimat. Kemungkinan individu akan mereka-reka
proses pemikirannya, ketika diminta pertanggung jawabannya.
2.
Kecerdasan
logika-matematika (logical–mathematical intelligence)
Kemampuan
individu untuk berpikir logika dan perhitungan matematis, yang sifatnya pasti.
Orang akan senang menghadapi masalah-masalah yang menggunakan kemampuan untuk
menangkap, memahami dan menganalisis suatu masalah perhitungan matematis.
Kamampuan logika-matematika yang dimilikinya biasanya lebih menonjol
dibandingkan dengan oranglain yang tidak mampu di bidang ini. Misalnya:
pemenang nobel dibidang matematika dari AS, Barbara McClintoch.
3.
Kecerdasan
spasial (spatial intelligence)
Kemampuan
untuk memahami, menganalisis hal-hal yang berkaitan dengan masalah ruang 3
dimensi. Dengan kemampuan itu, individu dapat mengatur dan memecahkan masalah
aspek keruangan. Aspek keruangan ini, tidak hanya berhubungan dengan masalah
teknis ke arsitekturan, sipil, tetapi juga maslah medi maupun seni. Orang
professional (ahli) yang tergolong memiliki kemampuan ini, diantaranya:
Insinyur teknik arsitektur, sipil, dokter bedah, pemotong atau penata rambut,
pelukis, pemahat/pematung, navigator. B.J HABIBIE adalah salah satu tokoh
genius Indonesia yang memiliki kecerdasan special. Ia adalah lulusan fakultas
teknik dari sebuah Universitas di Jerman, yang kemudian menjadi menteri riset
dan teknologi, bahkan terakhir menjadi presiden Republik Indonesia yang ke-3.
4.
Kecerdasan music
(musical intelligence)
Kemampuan
individu untuk memahami, mengerti, mengolah, mencipta atau memertunjukkan
masalah-masalah yang berhubungan dengan seni music. Dengan kemampuan ini,
individu mampu menganalisis kekurangan dan kelebihan suatu irama lagu, music,
nada dan sebagainya. Orang-orang yang memiliki kecerdasan music in, misalnya:
kritikus music, pemusik baik tradisinoal dan modern. Hal ini dapat dilihat
seperti: Mozart, Bethoven (Swiss), Vivaldi (Italia), Johan Sebastian Bach
(Jerman), Adi MS, Idris Sardi, WR.Supratman, Ismail Marzuki (Indonesia).
Kecerdasan music,
bersumber pada organ otak kanan (right hemisphere), yang memiliki peranan untuk
mempersepsikan, memproduksi atau menciptakan keindahan music. Kerusakan pada
bagian organ ini, menimbulkan ketidakmampuan untuk menangkap keindahan music dengan
baik.
5.
Kecerdasan
kinestetik (bodily – kinesthetic intelligence)
Kemampuan
individu untuk mengenali, memahami seluruh bagian-bagian organ tubuh, serta
mampu untuk mengekspresikan emosi-perasaanya dalam bentuk gerakan-gerakan fisik
untuk tujuan seni maupu kegiatan olah raga. Orang yang memiliki kecerdasan ini,
akan dapat menonjol prestasinya di bidang olah raga, seni tari, seni drama.
Maka banyak tokoh atlet olah raga (Ade Ray – atlet binaraga, Ardi B. Wiranata,
Rudi Hartono, Liem Swie King, Icuk Sugiarto, Susi Susanti – atlet bulu tangkis,
Yayuk Basuki, Martina Hingis, Martina Navratilova, Pete Sampras, Andre Agassi –
atlet tenis lapangan, Mario Kempes, Pele, Van Basten, Ruud Gullit – atlet sepak
bola, dan sebagainya). Kemampuan kinestesi ini terletak pada cortex motoric (kortek motoric).
Kerusakan pada bagian ini, menyebabkan individu tak mampu melakukan koordinasi
otot maupun organ fisik dengan baik.
6.
Kecerdasan
interpersonal (interpersonal intelligence)
Kemampuan
individu yang dicirikan dengan adanya kepekaan untuk memahami perasaan orang
lain, sehingga ia dengan mudah dapat menjalin relasi dengan lingkungan
sosialnya. Individu yang memiliki kecerdasan secara interpersonal dapat
menekuni bidang: siar agama, guru/dosen, psikolog, politikus, juru penerang, master of ceremony, presenter TV, dan
sebagainya. Kemampua ini bersumber pada lobus
frontal. Kerusakan bagian ini, misalnya: karena kecelakaan dalam operasi
bedah atau kecelakaan mobil, dapat menyebabkan individu mengalami perubahan
kepribadiannya seperti ketidakmampuan untuk bergaul, menyendiri atau menarik
diri dari pergaulan.
7.
Kecerdasan
intrapersonal (intrapersonal intelligence)
Kecerdasan
intrapersonal ialah kemampuan untuk memahami aspek-aspek internal maupun
eksternal seperti: perasaan, pemikiran, pengalaman pribadi, dan pengamatan terhadap lingkungan kehidupan
dalam alam semesta (manusia, hewan, tumbuhan, alam fisik); sehingga dengan
kemampuan tersebut individu dapat mengekspresikan dalam karya yang meningkatkan
harkat dan martabat hidupnya sendiri maupun orang lain. Orang yang cerdas
secara intrapersonal, biasanya suka melakukan perenungan diri guna mencari
inspirasi, ide-gagasan; yang kemudian dituangkan dalam tulisan-tulisan.
Individu yang memiliki kecerdasan ini, dapat menjadi ahli di bidang filsafat,
kepenulisan/kepengarangan buku, ahli sastra, dan sebagainya. Tokoh-tokoh
seperti itu dapat dilihat pada diri Plato, Aristoteles (filsuf), Sutan Takdir
Alisyahbana, Armyn Pane, Abdul Muis (pengarang roman/novel), dan sebagainya.
Secara
fisiologis, organ yang menyebabkan individu memiliki kecerdasan ini terletak
dibagian lobus-frontal dalam otak.
Individu yang mengalami kerusakan pada bagian lobus-frontal ini, akan menyebabkan kelambanan dalam perilaku
maupun menjadi apatis, pesimis dan tak mampu merasakan perasaan sendiri maupun
orang lain.
8.
Kecerdasan
natural (natural intelligence)
Kecerdasan
natural ialah suatu kemampuan yang dapat memahami, menguasai dan terampil dalam
mengatasi masalah-masalah yang berhubungan dengan lingkungan hidup alamiah,
seperti binatang, tanaman maupun yang lainnya. Orang yang memiliki kecerdasan
ini, minatnya cenderung terarah untuk bergaul, meneliti, memahami dan
melindungi lingkungan hidup agar tetap bertahan secara alamiah. Banyak diantara
mereka yang kemudian terjun menjadi tokoh aktivis untuk menjaga kelestarian
alam, misalnya kelompok Walhi (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia), Greenpeace,
dan sebagainya. Salah satu tokoh, antara lain: Prof.Dr.Emil Salim (mantan
menteri lingkungan hidup), Ully Sigar Rusadi (artis penyanyi).
Walaupun
gardner telah mengajukan konsep inteligensi bersifat ganda, namun sampai
sekarang ia belum mampu mengoperasionalkan konsep pemikiran tersebut, menjadi
alat ukur yang dapat dipergunakan untuk mengetahui tipe-tipe kecerdasan sesuai
dengan ide-idenya. Namun demikian, menurut Gardner tak selamanya pengukuran
kecerdasan seseorang itu harus melalui teknik kuantitatif yang dapat diwujudkan
dalam bentuk angka-angka. Skor angka yang besar tak ada artinya, kalau dalam
kenyataanya, individu yang bersangkutan tak mampu mewujudkan kemampuannya
sepadan dengan besar angka yang dicapai dalam tes itu. Karena itu, untuk
mengetahui bahwa seseorang itu memunyai jenis kecerdasan apa, maka dapat
digunakan cara melihat prestasi yang teraktualisasi dalam kehidupan
sehari-hari. Mungkin orang itu, tak dapat menyelesaikan pendidikan tinggi,
tetapi ia menghasilkan prestasi di bidang tertentu, maka ia dianggap memiliki
kecerdasan di bidang itu. Dengan demikian, konsep pemikiran kecerdasan ganda dari Howard Gardner
lebih tepat dikatakan sebagai bakat
khusus (special apttitude).
BAB III
PENUTUP
Simpulan
Dari pembahasan diatas dapat diambil simpulan bahwa setiap
individu memiliki potensi yang unik yang harus dikembangkan menjadi kompetensi.
Pendidikan merupakan suatu proses yang dilakukan untuk mengembangkan potensi
individu menjadi kompetensi. Manusia, pada dasarnya, memiliki beberapa jenis kecerdasan yang
menonjol. Howard Gardner, seorang pakar psikologi dari Harvard University,
mengemukakan delapan jenis kecerdasan yang meliputi kecerdasan:
1. Bahasa
2. Matematis
logis
3. Spasial
4. Musikal
5. Kinestetis
tubuh
6. Interpersonal
7. Intrapersonal
8. Naturalis
DAFTAR
PUSTAKA
BAB
Dalton, J. 1990. Creative Thinking and Cooperative Talk in Small Group.
Australia : Thomas Nelson
Dryden,
G.S. 1999. Revolusi Cara Belajar : Keajaiban Pikiran. Bandung : Kaifa
Dariyo
agoes. 2004. Psikologi perkembangan remaja. Jakarta: ghalia indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar