Minggu, 10 April 2016

TEORI KECERDASAN GANDA - METODE PEMBELAJARAN FISIKA UHAMKA 2016

BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
            Pendidikan pada dasarnya merupakan suatu proses pengembangan potensi individu. Melalui pendidikan, potensi yang dimiliki oleh individu akan diubah menjadi kompetensi. Kompetensi mencerminkan kemampuan dan kecakapan individu dalam melakukan suatu tugas atau pekerjaan. Tugas pendidik atau guru dalam hal ini adalah memfasilitasi anak didik sebagai individu untuk dapat mengembangkan potensi yng dimkili menjadi kompetensi sesuai dengan cita-citanya. Program pendidikan dan pembelajaran seperti yang berlangsung saat ini oleh karenanya harus lebih diarahkan atau lebih berorientasi kepada invidu peserta didik.
Kenyataan menunjukkan bahwa program pendidikan yang berlangsung saat ini lebih banyak dilaksanakan dengan cara membuat generalisasi terhadap potensi dan kemampuan siswa. Hal ini disebabkan karena kurangnya pemahman pendidik tentang karakteristik individu.
Jerold E. Kemp dan kawan-kawan mengemukakan (1996) beberapa karakteristik individu siswa yang perlu difahami antara lain :
1.      Age and maturity level
2.      Motivation and attitude toward subject
3.      Expectation and vocational level
4.      Special Talent
5.      Mechanical Dexterity
6.      Abilityto work under various enviro condition.
            Salah satu karakteristik  penting dari individu yang perlu difahami oleh guru sebagai pendidik adalah bakat dan kecerdasan individu. Guru yang tidak memahami kecerdasan anak didik akan memiliki kesulitan dalam memfasilitasi proses pengembangan potensi individu menjadi yang dicita-citakan. Generalisasi terhadap kemampuan dan potensi individu memberikan dampak negatif yaitu siswa tidak memiliki kesempatan untuk mengebangkan secara optimal pternsi yang aa pada dirinya. Akibat penanganan salah seperti yang dilakukan oleh sistem persekolahan saat ini kita telah kehilangan bakat-bakat cemerlang. Individu-individu yang cerdas tidak dapat mengembangkan potensi diri mereka secara optimal.
Teori Kecerdasan Ganda (Multiple Inteligence) yang dikemukakan oleh Howard Gardner – seorang professor psikologi dari Harvard University – akan dijadikan acuan untuk lebih memahami bakat dan kecerdasan individu. Tulisan ini bertujuan untuk membahas dan lebih memahami tentang upaya yang perlu dilakukan oleh guru dan pendidik dalam membantu memfasilitasi pengembangan potensi individu peseta didik.

B.     TUJUAN PEMBELAJARAN
1.      Untuk memenuhi tugas mata kuliah Teori pembelajaran Fisika tentang “ teori kecerdasan ganda”
2.      Untuk menambah pengetahuan penyusun serta mahasiswa lain khususnya mahasiswa Universitas Muhammadiyah Prof.DR. HAMKA










BAB II
PEMBAHASAN
A.         Kecerdasan menurut Thurstone
L. L Thurstone (1887-1980), seorang ahli psikometrika, merumuskan konsep intelegensi terdiri atas 7 aspek kemampuan, yakni: angka-angka, kelancaran kata, arti verbal, asosiasi ingatan, alasan-alasan logis-rasional, pemahaman ruang, dan kecepatan persepsi.
No.
Aspek-aspek inteligensi Thurstone
1.
Angka-angka (number)
2.
Kelancaran kata ( word fluency)
3.
Arti bahasa ( verbal meaning)
4.
Asosiasi ingatan (associative memory)
5.
Alasan-alasan (reasoning)
6.
Pemahaman ruang (space)
7.
Kecepatan persepsi (perceptual speed)







Alat tes ini dikenal dengan sebutan The Thurstone Primary Mental Abilities Test. Tes ini cocok untuk mengukur kemampuan individu yang cenderung bersifat kompleks, sehingga dapat dipergunakan untuk meramalkan prestasi akademis siswa di masa depan.
B.         Tes kecerdasan ganda (multiple intellegences) dari Howard Gardner
Selain Thurstone, ternyata Howard Gardner, seorang ahli di bidang tes psikologis, secara tegas menolak adanya anggapan bahwa kecerdasan itu terdiri atas 2 aspek saja (verbal dan performansi). Ia sependapat dengan Thurstone, bahwa kecerdasan itu terdiri atas berbagai aspek, jadi lebih dari dua aspek. Karena itu disebut inteligensi ganda (multiple intelligences).
Menurut Gardner (1993) ada 8 jenis kecerdasan, diantaranya:
No.
Jenis – jenis kecerdasan
1.
Kecerdasan bahasa
2.
Kecerdasan logika – matematika
3.
Kecerdasan spasial
4.
Kecerdasan music
5.
Kecerdasan kinestesi
6.
Kecerdasan inter-personal
7.
Kecerdasan intra-personal
8
Kecerdasan natural







1.                 Kecerdasan bahasa (linguistic intelligence)
Kemampuan individu untuk mengekspresikan otak sebelah kanan, dalam bentuk ekspresi bahsa, yang terlihat dalam bentuk tulisan, seperti penyair, pengarang. Misalnya: Shakespeare (Inggris), Rabidranath Tagore (India), Chairil Anwar, Sutan Takdir Alisyahbana, Muh.Yamin (Indonesia). Para ahli fisiologis, mengakui bahwa wilayah area broca dianggap sebagai organ yang berperan untuk mengolah, menghasilkan kalimat tata bahasa. Kerusakan atau cedera pada organ ini, menyebabkan individu tidak mampu atau akan mengalami kesulitan untuk memahami atau mengerti kata-kata atau kalimat. Kemungkinan individu akan mereka-reka proses pemikirannya, ketika diminta pertanggung jawabannya.





2.                 Kecerdasan logika-matematika (logical–mathematical intelligence)
Kemampuan individu untuk berpikir logika dan perhitungan matematis, yang sifatnya pasti. Orang akan senang menghadapi masalah-masalah yang menggunakan kemampuan untuk menangkap, memahami dan menganalisis suatu masalah perhitungan matematis. Kamampuan logika-matematika yang dimilikinya biasanya lebih menonjol dibandingkan dengan oranglain yang tidak mampu di bidang ini. Misalnya: pemenang nobel dibidang matematika dari AS, Barbara McClintoch.

3.                 Kecerdasan spasial (spatial intelligence)
Kemampuan untuk memahami, menganalisis hal-hal yang berkaitan dengan masalah ruang 3 dimensi. Dengan kemampuan itu, individu dapat mengatur dan memecahkan masalah aspek keruangan. Aspek keruangan ini, tidak hanya berhubungan dengan masalah teknis ke arsitekturan, sipil, tetapi juga maslah medi maupun seni. Orang professional (ahli) yang tergolong memiliki kemampuan ini, diantaranya: Insinyur teknik arsitektur, sipil, dokter bedah, pemotong atau penata rambut, pelukis, pemahat/pematung, navigator. B.J HABIBIE adalah salah satu tokoh genius Indonesia yang memiliki kecerdasan special. Ia adalah lulusan fakultas teknik dari sebuah Universitas di Jerman, yang kemudian menjadi menteri riset dan teknologi, bahkan terakhir menjadi presiden Republik Indonesia yang ke-3.





4.                 Kecerdasan music (musical intelligence)
Kemampuan individu untuk memahami, mengerti, mengolah, mencipta atau memertunjukkan masalah-masalah yang berhubungan dengan seni music. Dengan kemampuan ini, individu mampu menganalisis kekurangan dan kelebihan suatu irama lagu, music, nada dan sebagainya. Orang-orang yang memiliki kecerdasan music in, misalnya: kritikus music, pemusik baik tradisinoal dan modern. Hal ini dapat dilihat seperti: Mozart, Bethoven (Swiss), Vivaldi (Italia), Johan Sebastian Bach (Jerman), Adi MS, Idris Sardi, WR.Supratman, Ismail Marzuki (Indonesia).
Kecerdasan music, bersumber pada organ otak kanan (right hemisphere), yang memiliki peranan untuk mempersepsikan, memproduksi atau menciptakan keindahan music. Kerusakan pada bagian organ ini, menimbulkan ketidakmampuan untuk menangkap keindahan music dengan baik.

5.                 Kecerdasan kinestetik (bodily – kinesthetic intelligence)
Kemampuan individu untuk mengenali, memahami seluruh bagian-bagian organ tubuh, serta mampu untuk mengekspresikan emosi-perasaanya dalam bentuk gerakan-gerakan fisik untuk tujuan seni maupu kegiatan olah raga. Orang yang memiliki kecerdasan ini, akan dapat menonjol prestasinya di bidang olah raga, seni tari, seni drama. Maka banyak tokoh atlet olah raga (Ade Ray – atlet binaraga, Ardi B. Wiranata, Rudi Hartono, Liem Swie King, Icuk Sugiarto, Susi Susanti – atlet bulu tangkis, Yayuk Basuki, Martina Hingis, Martina Navratilova, Pete Sampras, Andre Agassi – atlet tenis lapangan, Mario Kempes, Pele, Van Basten, Ruud Gullit – atlet sepak bola, dan sebagainya). Kemampuan kinestesi ini terletak pada cortex motoric (kortek motoric). Kerusakan pada bagian ini, menyebabkan individu tak mampu melakukan koordinasi otot maupun organ fisik dengan baik.




6.                 Kecerdasan interpersonal (interpersonal intelligence)
Kemampuan individu yang dicirikan dengan adanya kepekaan untuk memahami perasaan orang lain, sehingga ia dengan mudah dapat menjalin relasi dengan lingkungan sosialnya. Individu yang memiliki kecerdasan secara interpersonal dapat menekuni bidang: siar agama, guru/dosen, psikolog, politikus, juru penerang, master of ceremony, presenter TV, dan sebagainya. Kemampua ini bersumber pada lobus frontal. Kerusakan bagian ini, misalnya: karena kecelakaan dalam operasi bedah atau kecelakaan mobil, dapat menyebabkan individu mengalami perubahan kepribadiannya seperti ketidakmampuan untuk bergaul, menyendiri atau menarik diri dari pergaulan.

7.                 Kecerdasan intrapersonal (intrapersonal intelligence)
Kecerdasan intrapersonal ialah kemampuan untuk memahami aspek-aspek internal maupun eksternal seperti: perasaan, pemikiran, pengalaman pribadi,   dan pengamatan terhadap lingkungan kehidupan dalam alam semesta (manusia, hewan, tumbuhan, alam fisik); sehingga dengan kemampuan tersebut individu dapat mengekspresikan dalam karya yang meningkatkan harkat dan martabat hidupnya sendiri maupun orang lain. Orang yang cerdas secara intrapersonal, biasanya suka melakukan perenungan diri guna mencari inspirasi, ide-gagasan; yang kemudian dituangkan dalam tulisan-tulisan. Individu yang memiliki kecerdasan ini, dapat menjadi ahli di bidang filsafat, kepenulisan/kepengarangan buku, ahli sastra, dan sebagainya. Tokoh-tokoh seperti itu dapat dilihat pada diri Plato, Aristoteles (filsuf), Sutan Takdir Alisyahbana, Armyn Pane, Abdul Muis (pengarang roman/novel), dan sebagainya.
Secara fisiologis, organ yang menyebabkan individu memiliki kecerdasan ini terletak dibagian lobus-frontal dalam otak. Individu yang mengalami kerusakan pada bagian lobus-frontal ini, akan menyebabkan kelambanan dalam perilaku maupun menjadi apatis, pesimis dan tak mampu merasakan perasaan sendiri maupun orang lain.

8.                 Kecerdasan natural (natural intelligence)
Kecerdasan natural ialah suatu kemampuan yang dapat memahami, menguasai dan terampil dalam mengatasi masalah-masalah yang berhubungan dengan lingkungan hidup alamiah, seperti binatang, tanaman maupun yang lainnya. Orang yang memiliki kecerdasan ini, minatnya cenderung terarah untuk bergaul, meneliti, memahami dan melindungi lingkungan hidup agar tetap bertahan secara alamiah. Banyak diantara mereka yang kemudian terjun menjadi tokoh aktivis untuk menjaga kelestarian alam, misalnya kelompok Walhi (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia), Greenpeace, dan sebagainya. Salah satu tokoh, antara lain: Prof.Dr.Emil Salim (mantan menteri lingkungan hidup), Ully Sigar Rusadi (artis penyanyi).
Walaupun gardner telah mengajukan konsep inteligensi bersifat ganda, namun sampai sekarang ia belum mampu mengoperasionalkan konsep pemikiran tersebut, menjadi alat ukur yang dapat dipergunakan untuk mengetahui tipe-tipe kecerdasan sesuai dengan ide-idenya. Namun demikian, menurut Gardner tak selamanya pengukuran kecerdasan seseorang itu harus melalui teknik kuantitatif yang dapat diwujudkan dalam bentuk angka-angka. Skor angka yang besar tak ada artinya, kalau dalam kenyataanya, individu yang bersangkutan tak mampu mewujudkan kemampuannya sepadan dengan besar angka yang dicapai dalam tes itu. Karena itu, untuk mengetahui bahwa seseorang itu memunyai jenis kecerdasan apa, maka dapat digunakan cara melihat prestasi yang teraktualisasi dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin orang itu, tak dapat menyelesaikan pendidikan tinggi, tetapi ia menghasilkan prestasi di bidang tertentu, maka ia dianggap memiliki kecerdasan di bidang itu. Dengan demikian, konsep pemikiran kecerdasan ganda dari Howard Gardner lebih tepat dikatakan sebagai bakat khusus (special apttitude).






















BAB III
PENUTUP

Simpulan
Dari pembahasan diatas dapat diambil simpulan bahwa setiap individu memiliki potensi yang unik yang harus dikembangkan menjadi kompetensi. Pendidikan merupakan suatu proses yang dilakukan untuk mengembangkan potensi individu menjadi kompetensi. Manusia, pada dasarnya,  memiliki beberapa jenis kecerdasan yang menonjol. Howard Gardner, seorang pakar psikologi dari Harvard University, mengemukakan delapan jenis kecerdasan yang meliputi kecerdasan:
1.      Bahasa
2.      Matematis logis
3.      Spasial
4.      Musikal
5.      Kinestetis tubuh
6.      Interpersonal
7.      Intrapersonal
8.      Naturalis







DAFTAR PUSTAKA
BAB Dalton, J. 1990. Creative Thinking and Cooperative Talk in Small Group. Australia : Thomas Nelson
Dryden, G.S. 1999. Revolusi Cara Belajar : Keajaiban Pikiran. Bandung : Kaifa

Dariyo agoes. 2004. Psikologi perkembangan remaja. Jakarta: ghalia indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar